Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Oktober 2010

Puncak Transaksi Hewan Kurban Diperkirakan Pekan Depan

Ihsani Aqiqah & Bursa Qurban  - Bandung (PRLM)
Hingga sekitar dua pekan menjelang Iduladha, transaksi di sejumlah pusat penjualan hewan kurban masih relatif sepi. Puncak transaksi diperkirakan akan terjadi pekan depan, atau satu pekan sebelum Idul Adha.

Salah seorang pengelola tempat penjualan hewan kurban di kawasan Citeureup Kota Cimahi, Lili (30) menuturkan, selama berjualan, baru lima ekor kambing yang terjual. "Di sini buka sekitar dua minggu lalu, biasanya memang selama satu bulan sebelum hari H, yang dipesan baru lima kambing," ujar Lili.


Dikatakannya, tahun ini dia menyediakan sekitar 250 ekor kambing untuk dijual. Angka tersebut disesuaikan dengan angka penjualan di tempat yang sama pada tahun-tahun sebelumnya. Kendati transaksi masih sepi, dia optimistis hewan kurban akan habis terjual. Berdasarkan pengalaman tahun lalu, biasanya transaksi mulai ramai sekitar satu pekan sebelum hari kurban. "Sekarang memang masih sepi, nanti baru mulai h-7. Biasanya kita pas h-3 sudah habis dipesan," kata Lili.

Mengenai harga, kambing dengan bobot terendah, kelas D, sekitar 11 hingga 12 kilogram dijual sekitar Rp 850.000,00, sedangkan kelas istimewa harganya bisa mencapai di atas Rp 2 juta. Sementara untuk sapi, kelas terendah sekitar 110 hingga 120 kilogram dijual seharga Rp 7.500.000,00, sedangkan kelas istimewa bisa mencapai lebih dari Rp 20 juta.
Harga tersebut berlaku relatif sama di sejumlah sentra penjualan hewan kurban, termasuk di kawasan Batujajar Kabupaten Bandung Barat. Kendati dijual mulai dari harga di bawah Rp 1 juta, pembeli cenderung memilih kambing dengan harga sekitar Rp 1.200.000,00 hingga Rp 1.500,000,00. Sementara untuk sapi, kelas yang diminati biasanya sapi seharga sekitar Rp 9 juta dengan bobot sekitar 130 kilogram.

"Tahun lalu, kambing dijual mulai sekitar harga Rp 750.000, tahun ini naik RP 100.000,00 untuk mengikuti harga pasar. Kalau untuk sapi, harga masih tetap sama dengan tahun lalu," kata Ajat, pengelola tempat penjualan hewan kurban di kawasan Cijawura Kota Bandung.

Dia menjelaskan, selama ini pasokan hewan kurban rata-rata berasal dari kawasan Kabupaten Garut serta Tasikmalaya. Kecenderungannya, pasokan hewan masih lebih kecil dibandingkan dengan permintaan pasar. Dikatakannya, tiap tahun hewan kurban selalu habis. Bahkan tidak jarang, terdapat pembeli yang tidak mendapatkan hewan untuk kurban karena kehabisan. "Kadang baru habisnya pas hari h+1, tapi selalu habis," katanya. (A-179/A-147)***
sumber : Pikiran Rakyat Online

Sabtu, 30 Oktober 2010

Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah akan Berbeda Peringati Idul Adha

Ihsani Aqiqah & Bursa Qurban

Ketua Umum Asosiasi Dosen Falak Indonesia (ADFI) Ahmad Izzuddin memperkirakan, penentuan hari raya Idul Adha 1431 hijriyah antara Nahdlatul Ulama (NU) dengan Muhammadiyah akan berbeda.  "Peluang perbedaannya sangat besar," kata Izzuddin kepada Tempo, Ahad (31/10).


Dia memprediksi, NU akan merayakan hari raya Idul Adha pada 17 November 2010 sedangkan Muhammadiyah 16 November 2010. Menurut anggota tim Badan Hisab Rukyat Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) ini perbedaan itu terjadi karena adanya perbedaan kaidah atau prinsip dalam penentuan tanggal.

NU menggunakan prinsip adanya inkanur rukyat dua derajat. Diprediski, sepuluh hari sebelum tanggal 17 Novemer ketinggian hilal pada dua derajat. Sedangkan Muhamadiyah, kata Izzuddin, menggunakan prinsip atau kaidah hisab wujudul hilal diatas ufuk 0 derajat.  Ketinggian hilal sangat menentukan karena hilal merupakan bulan sabit pertama setelah bulan baru.

Meski diprediksi ada perbedaan pendapat, tapi Tim Badan Hisab Rukyat Masjid Agung Jawa Tengah bersama dengan pemerintah akan menggelar pertemuan guna melihat posisi bulan. Rapat digelar pada 7 November untuk penentuan ketinggain hilal. Pada 7 November itulah akan diputuskan kapan tanggal 1 Dzulhijjah dimulai.

Sekretaris Program Khusus Ilmu Falak Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang ini menyatakan meski pada Hari Raya Idul Fitri 10 September lalu tidak ada perbedaan, tapi untuk pelaksanaan Idu Adha sangat besar kemungkinan ada perbedaan. "Belum tentu kalau Idul Fitri sama Idul Adha akan bisa sama," ujar Ketua Lajnah Falakiyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah itu. 

Selama ini, setidaknya ada dua metode untuk menentukan awal bulan, yakni hisab dan rukyat. Hisab adalah melakukan perhitungan untuk mengetahui posisi bulan secara matematis dan astronomis dalam menentukan dimulainya awal bulan pada kalender hijriah. Hisab merupakan alat bantu untuk mengetahui kapan dan di mana hilal (bulan sabit pertama setelah bulan baru) dapat terlihat.

Sedangkan rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang nampak pertama kali setelah terjadinya ijtimak atau bulan baru. Rukyat dilakukan setelah matahari terbenam karena hilal hanya tampak setelah matahari terbenam atau waktu maghrib.

Sumber : TEMPO Interaktif, Semarang: 
penulis : Rofiuddin

Jumat, 29 Oktober 2010

Disnak Madina harus perketat pengawasan

Ihsani Aqiqah & Bursa Qurban

PANYABUNGAN
Dinas Peternakan Kabupaten Mandailing Natal perlu memperketat pengawasan lalu lintas ternak sapi  untuk mengantisipasi adanya pasokan sapi sakit dari luar daerah menjelang Hari Raya Idul Adha 1431 Hijriah/2010 Masehi yang jatuh pada 16 November mendatang.


“Pengawasan perlu diperketat guna  mengantisipasi masuknya sapi yang tidak layak konsumsi dan mengandung virus yang berbahaya bagi kesehatan manusia,” kata Wakil Sekretaris DPC PPP Madina, Lokot Husda Lubis, pagi ini.

Dikatakan, salah satu penyakit ternak besar  yang perlu diwaspadai adalah antraks, karena apabila ternak yang terjangkit virus antraks dikonsumsi, cacing pita, sapi gila dan penyakit berbahaya lainnya, karena virus dapat menulari manusia.

Berkaitan dengan hal itu, lanjutnya, Dinas Peternakan Madina  bersama dengan instansi terkait harus terus memantau di lokasi yang menjadi lalu-lalang atau pintu masuk ternak sapi.

Selain itu,Lokot mengatakan, Dinas Peternakan Madina juga perlu juga menurunkan petugas kesehatan hewan  disebar ke beberapa titik penjualan hewan kurban.

”Meski selama ini berdasarkan pemeriksaan dan pengamatan petugas di lapangan memang belum ditemukan ternak  yang mengandung penyakit menular, namun pada Hari Raya Idul Adha 1431 H / 2010 M ini pengawasan  harus lebih  ditingkatkan  lagi agar hewan qurban yang akan disembelih masyarakat memenuhi syarat ,aman, sehat, utuh dan halal atau tidak,” ungkapnya.
sumber: WaspadaOnline
Editor: SATRIADI TANJUNG (dat04/wsp)

Rabu, 27 Oktober 2010

PemKot Balikpapan perketat pemeriksaan hewan kurban

Ihsani Aqiqah & Bursa Qurban - Balikpapan-Micom

Pemerintah Kota Balikpapan akan memperketat pemeriksaan hewan kurban yang masuk ke Balikpapan terkait meningkatnya permintaan kebutuhan daging menjelang perayaan Idul Adha mendatang. Hewan kurban tersebut akan diperiksa oleh tim yang terdiri dari, dokter hewan, dan petugas kehatan lainnya dari pemkot.

"Setiap hewan yang turun dari kapal langsung diperiksa untuk memastikan tidak terinfeksi penyakit. Apalagi jauhnya perjalanan, hewan tersebut berisiko terkena mabuk dan tidak mau makan sehingga menjadi lemah," kata Kepala Dinas Pertanian, Kelautan dan Peternakan Chaidar Chairulsyah, Kamis (28/10).


Dia mengatakan hewan yang sudah diperiksa dan dinyatakan bebas dari penyakit atau sehat akan diberikan stiker yang akan dipasang pada hewan tersebut. Sehingga masyarakat dapat mengentahui hewan tersebut dapat di sembelih.

"Masyarakat harus memberli hewan yang sudah berstiker, karena hewan itu sudah dipastikan sehat dan bias disembelih," ungkapnya.

Pada tahun lalu jumlah hewan yang disembeli di Balikpapan sebanyak 3.050 ekor yang terdiri dari sapi 2.000 ekor dan kamping 1.050 ekor. Tahun ini diperkirakan akan mengalami kenaikan sekitar 5% hingga 10%. Sebagain besar hewan kurban tersebut berasal dari Sulawesi dan Nusa Tenggara. (OL-3)

Penulis : Syahrul Karim
Sumber: Media Indonesia

Selasa, 26 Oktober 2010

Penjual Hewan Kurban Bermunculan

Ihsani Aqiqah & Bursa Qurban

LAHAT - Menjelang Idul Adha tahun 2010 ini bermunculan penjual hewan kurban di Kota Lahat. Hewan yang banyak dijual adalah kambing. Para pedagang sudah menyimpan stok dalam jumlah banyak untuk mengantisipasi pembelian hewan kurban.

Supang (35), seorang penjual hewan kurban mengaku menyiapkan hewan kurban dengan jenis dan harga yang bervariasi setiap tahunnya. Biasanya, masyarakat akan memburu hewan-hewan qurban satu hingga beberapa hari menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha.


“Tahun ini saya mempersiapkan stok hewan qurban lebih banyak dari tahun sebelumnya. Tahun lalu, saya kehabisan stok,” katanya. Harga jual bervariasi tergantung jenis serta besar hewannya. Harga yang di tawarkan mulai Rp 750 ribu, Rp 1 juta hingga Rp 2 juta per ekor.

Ia mengaku membeli sebagian hewan-hewan itu dari daerah Lampung. Namun ada juga sebagian yang merupakan hewan peliharaannya yang memang dipersiapkan untuk dijual saat Lebaran Idul Adha. (mg3)

Sumber: Sriwijaya Post

Senin, 25 Oktober 2010

2 Minggu Sebelum Idul Adha, Distan akan Cek Hewan Kurban

Ihsani Aqiqah & Bursa Qurban Bandung 
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan) Kota Bandung akan membentuk 6 tim untuk mengecek kesehatan dan fisik hewan qurban. Pengecekan tersebut dilakukan dua minggu menjelang Idul Adha 2010.

Menurut Sekretaris Distan Kota Bandung, Elly Wasliah, 6 tim yang masing-masing tim berjumlah 5 orang itu akan disebar ke 6 wilayah dan kecamatan.

"Tim itu nantinya akan memeriksa kondisi kesehatan dan fisik hewan kurban seperti kambing dan sapi yang dijual. Contohnya kita akan memeriksa gigi, dan kondisi fisik lainnya apakah hewan itu buta, atau mengalami kelainan," ujar Elly saat dihubungi detikbandung via ponsel, Selasa (26/10/2010).


Menurut Elly, pemeriksaan gigi sesuai dengan syarat agama. Kata Elly, hewan yang disahkan secara agama yakni usia kambing di atas satu tahun dan usia sapi di atas satu setengah tahun hingga dua tahun.

"Kalau giginya sudah tanggal satu, menandakan kambing sudah satu tahun dan bisa untuk sebagai syarat disembelih untuk Idul Adha. Selain itu kita juga tidak boleh memilih hewan yang sudah buta atau cacat," jelasnya.

Seteleah hewan dipastikan sehat, hewan kurban tersebut akan diberi kalung sehat.

Sementara itu, selain pengecekan sebelum Idul Adha, saat hari H pun Distan akan melakukan pengecekan ke tempat penyembelihan hewan kurban yang jumlahnya banyak. Hal itu dilakukan untuk mengecek kondisi daging.

"Untuk mengecek kondisi daging layak dikonsumsi atau tidak. Petugas akan berkonsentrasi ke daging yang terkena penyakit, seperti cacing hati. Sebab kalau terkena penyakit itu, tidak layak makan," terangnya.

Meski tidak akan mematikan jika memakan daging yang berpenyakit cacing hati, namun kata Elly pihaknya tetap akan mengecek kondisi daging untuk benar-benar memastikan daging tersebut layak makan.

"Selain itu ada juga yang di dalam dagingnya borok. Secara kasat mata mungkin tidak terlihat," katanya.

Sumber: DetikBandung.com
Penulis: Baban Ganda Purnama (avi/ern)

Selasa, 31 Agustus 2010

Mengubah Jerami Kering Jadi Daging Sapi

Ihsani Aqiqah & Bursa Qurban

Indonesia masih kekurangan daging sapi. Kekurangan tersebut selama ini dipenuhi dari impor daging beku, sapi siap potong maupun sapi bakalan untuk digemukkan. Kendala utama yang mengakibatkan adanya kekurangan daging sapi tersebut adalah jumlah induk betina sapi kita hanya tinggal sekitar 11 juta ekor. Idealnya kita memiliki induk betika sekitar 14 sd. 15 juta ekor.

Namun di luar kendala kekurangan induk sapi tersebut, produktivitas sapi potong kita juga sangat rendah. Kalau sapi impor rata-rata mampu tumbuh dengan peningkatan bobot badan 1 kg per hari, maka sapi lokal kita hanya akan bertambah berat tara-rata 0,5 kg. per hari. 

Kendala produktivitas sapi potong kita antara lain disebabkan oleh kurangnya hijauan sebagai ransum, terutama pada musim kemarau. Di Jateng, DIY dan Jatim, limbah pertanian berupa tebon jagung dan jerami kering pun digunakan sebagai pakan sapi. Padahal nutrisi dari tebon dan jerami kering tersebut sudah sangat rendah. Makanan tambahan yang diberikan oleh peternak kepada sapi mereka hanyalah dedak (padi serta jagung), ampas tahu, tetes serta limbah pertanian lainnya. 

Namun di lain pihak, jerami padi banyak yang dibakar sia-sia. Di kawasan Karawang, Jawa Barat atau di sentra-sentra penghasil padi lainnya, sering kita saksikan pembakaran jerami kering di sawah-sawah. Padahal di lain pihak, para peternak sapi di Gunung Kidul (DIY) serta Wonogiri (Jateng) sedang kekurangan hijauan untuk pakan sapi mereka. 

Pola peternakan sapi rakyat di Jawa, Bali dan Lampung, agak berbeda dengan di luar Jawa/Bali/Lampung. Di Jawa/Bali/Lampung, ternak sapi selalu dikandangkan. Sementara di luar kawasan tersebut, sapi diliarkan di ladang-ladang atau hutan. 

Di Jawa/Bali/Lampung, peternak bisa berfungsi sebagai breeder, namun bisa pula sebagai penggemuk sapi kereman. Yang dimaksud sebagai breeder adalah, yang mereka pelihara sapi betina. Hasil yang mereka harapkan adalah anak sapi. 

Biasanya untuk proses pembuntingan, mereka menggunakan cara inseminasi buatan (kawin suntik). Kalau anak yang diperoleh jantan, akan digemukkan sebagai sapi potong. Apabila betina akan dibesarkan sebagai calon induk. Keuntungan dari memelihara induk sapi betina ini relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan memelihara sapi bakalan untuk digemukkan sebagai sapi potong. 

Namun para peternak sapi di Jawa/Bali/Lampung biasanya tidak merasa dirugikan dengan memelihara sapi betina, sebab mereka juga sekaligus menggemukkan sapi jantan hasil peternakan mereka. Selain itu, di kawasan ini sapi betina tersebut juga bisa berfungsi sebagai tenaga kerja membajak sawah. Hingga di Jawa/Bali/Lampung, peternak tidak pernah membeda-bedakan fungsi peternakan mereka, apakah sebagai breeder atau sebagai penggemuk sapi kereman.

Jenis sapi lokal yang banyak dibudidayakan masyarakat Indonesia adalah sapi zebu, peranakan ongole (PO), sapi bali, sapi madura (silangan alami antara zebu, ongole dan bali), american brahman dan australian brahman. Kadang-kadang, di masyarakat juga kita jumpai jenis sapi yang tidak lagi ketahuan galur/rasnya. Sebab di kalangan masyarakat pedesaan, dulu ada kebiasaan untuk mengawinkan sapi betina mereka, tanpa pernah memperhitungkan jenis pejantannya. Akibatnya sapi PO bisa kawin dengan sapi madura, sapi brahman dan sebagainya. 

Keturunan yang diperoleh, tentu menjadi tidak murni lagi. Dulu, perkawinan sedarah (inbreeding) atau antar saudara, juga ikut pula memerosotkan kualitas sapi yang ada. Terjadi degradasi kualitas sapi yang ada di masyarakat. Upaya pemerintah dengan melakukan inseminasi buatan, berikut penyuluhan kepada para peternak, telah memperbaiki kualitas sapi rakyat. Hingga sekarang galur sapi yang dipelihara masyarakat kembali jelas. 

Di Jawa dan Lampung, rata-rata masyarakat memelihara sapi zebu, PO atau brahman. Di Madura tentu sapi madura sementara di Bali sapi bali. Sapi madura dan sapi bali ini banyak pula dipelihara di  NTP dan NTT. Di kawasan transmigran atau pemukiman lain di Luar Jawa, Madura, Bali dan Lampung, sapi yang dipelihara tergantung dari masyarakat pemukimnya. Meskipun sekarang ada kecenderungan masyarakat untuk lebih memilih sapi bali serta madura karena  daya tahanannya yang relatif tinggi terhadap kekurangan hijauan maupun serangan penyakit.     

Dengan harga sekitar Rp 12.500,- per kg. hidup, dengan bobot rata-rata sekitar 300 sd. 400 kg. maka harga beli sapi jantan bakalan untuk digemukkan sekitar Rp 3.750.000,- sd. Rp 5.000.000,- Sapi-sapi lokal kita rata-rata akan mencapai pertambahan bobot hidup 0,5 kg. per hari. Sementara bakalan impor mampu tumbuh 1 kg. bobot hidup per hari. Namun biaya pakan dan perawatan sapi impor juga lebih tinggi dari sapi lokal. Sementara harga per kg. bobot hidup sapi impor, justru lebih rendah dibanding sapi lokal. Ibaratnya harga ayam broiler dengan ayam kampung. 

Dengan pertambahan bobot hidup 0,5 kg. per hari, kalau harga per kg. bobot hidup Rp 12.500. maka akan diperoleh marjin kotor Rp 6.250,- per hari. Dengan menggunakan pola menggaduh (maro), maka 50% dari marjin tersebut merupakan hak bagi pemilik modal. Hingga hak bagi pemelihara hanyalah Rp 3.125,- per ekor per hari. 

Dari marjin tersebut, 50% untuk biaya pakan. terutama konsentrat. Sebab hijauan biasanya akan dicari sendiri oleh si pemelihara. Hingga nilai "upah" bagi pemelihara sapi potong adalah Rp 1.562,50 per hari. Dengan kemampuan menggemukkan rata-rata sekitar 4 ekor, maka nilai penghasilan tenaga buruh penggemukan sapi adalah Rp 6.250,- per hari, dengan jam kerja antara 2 sd. 3 jam. Jam kerja ini akan digunakan untuk mencari hijauan, membersihkan kandang, memberi minum, memandikan sapi dll. Nilai upah ini setelah jangka waktu penggemukan selesai, biasanya 3 bulan, adalah Rp 140.625,- per ekor atau Rp 562.500,- untuk 4 ekor sapi.


Kalau penggemukan sapi ini dilakukan secara bisnis, maka nilai biaya yang harus dikeluarkan oleh investor adalah Rp 3.125,- per ekor per hari untuk sapi lokal, dan Rp 6.250,- per ekor per hari untuk sapi impor. Nilai biaya tersebut akan dialokasikan untuk penyusutan kandang, peralatan, perijinan dll, untuk pakan, obat-obatan serta tenaga kerja, termasuk untuk biaya manajemen. Jumlah minimal sapi lokal yang bisa digemukkan boleh hanya satu ekor dan sudah menguntungkan. 

Namun pada sapi impor, ada batasan minimalnya. Sebab mendatangkan sapi bakalan dari Australia, minimal harus satu kapal sebanyak sekitar 2.000 ekor. Hingga angka minimal yang harus digemukkan per angkatan adalah 2.000 ekor. Meskipun sekarang sudah ada pola "nempil". Seorang investor yang hanya memiliki modal untuk menggemukkan 20 ekor, bisa patungan dengan dua atau tida investor lain hingga terkumpul 40 sd. 60 ekor. Jumlah ini diusahakan untuk nempil (membeli sebagian kecil) dari pengusaha feedlot yang melakukan impor sapi bakalan. 

Apabila investor kecil tersebut sudah dikenal baik oleh importir, biasanya akan diberi "tempilan" sejumlah yang dibutuhkannya. Bahkan importir yang biasanya juga pengusaha penggemukan tersebut, akan menjamin pula pemasarannya apabila usaha yang dilakukan oleh si investor kecil tersebut berhasil. Patokan keberhasilan ini ditandai dengan angka mortalitas nol dan laju pertumbuhan minimal 1 kg. per ekor per hari. 

Komponen utama usaha penggemukan sapi potong adalah pakan. Dalam penggemukan berskala bisnis modern, pakan utama adalah konsentrat plus silase. Hijauan, baik segar maupun kering hanya diberikan sekadar untuk "lauk pauknya". Sementara dalam penggemukan secara tradisional, pakan utama adalah hijauan (juga segar maupun kering), sementara pakan tambahannya hanya berupa dedak, ampas tahu, ampas singkong, tetes tebu dan pakan lain sesuai dengan ketersediaan setempat. 

Karenanya pertambahan bobot hidup rata-rata pada penggemukan secara tradisional hanyalah 0,5 kg. per hari. Meskipun sapi yang digemukkan merupakan bakalan impor, dengan pola penggemukan tradisional, sulit untuk mencapai pertumbuhan bobot hidup 1 kg. per hari. Sementara sapi lokal pun, apabila digemukkan dengan pakan utama konsentrat dan silase, sementara hijauannya hanya merupakan pakan tambahan, akan mencapai pertumbuhan bobot hidup lebih dari 0,5 kg per hari. 

Pada akhirnya, yang akan menentukan untung ruginya penggemukan sapi potong adalah komponen biaya pakan ini. Apabila kita bisa menemukan pakan yang mampu meningkatkan bobot hidup tinggi namun harganya murah, maka tingkat keuntungannya akan bertambah. Sebaliknya, penggunaan konsentrat pabrik secara berlebihan, akan menelan biaya tinggi, hingga pertumbuhan bobot hidup yang dicapai tidak mampu lagi menutup biaya pakan. 

Hijauan murah yang selama ini masih belum termanfaatkan dengan baik untuk usaha penggemukan sapi potong adalah jerami padi. Kalau kita lewat kawasan Pantura atau sentra penghasil padi lainnya selama musim panen raya, maka akan tampak jerami yang dihamparkan di tengah sawah dan setelah kering langsung dibakar. Api (panas) yang ditimbulkan akibat pembakaran jerami ini, sebenarnya merupakan energi yang masih bisa diubah menjadi protein melalui pencernakan sapi. 
Di Gunung Kidul, DIY, pada musim kemarau sapi hanya diberi pakan jerami dan tebon (batang jagung) kering. Selulosa ini tentu sangat rendah gizinya. Namun di tahun 1950an, ketika pupuk urea diperkenalkan ke masyarakat, peternak di Gunung Kidul punya gagasan unik. Kalau mes (urea) bisa menyuburkan tanaman, mestinya juga bisa menggemukkan sapi. 
Maka mereka pun memberi sapi mereka sedikit urea pada minumannya. Biasanya air minum sapi ini dicampur dengan tetes, ampas singkong atau dedak. Di luar dugaan, ternyata sapi yang hanya diberi jerami dan tebon kering ini setelah mendapat urea benar-benar jadi gemuk. Dalam rumen (lambung sapi), memang terdapat bakteri penghancur selulosa. Dengan adanya starter urea plus karbohidrat, bakteri tersebut akan tumbuh pesat dan menghancurkan selulosa. Karena penghancuran jerami dan tebon kering ini dibantu oleh jutaan bakteri, maka penyerapan nutrisinya menjadi lebih optimal. Sementara bangkai bakteri berupa protein itu, merupakan gizi tambahan yang luarbiasa. (R) ***           

sumber: http://foragri.blogsome.com/mengubah-jerami-kering-menjadi-daging-sapi/

Minggu, 15 Agustus 2010

Memahami Makna Idul Adha

Bulan ini merupakan bulan bersejarah bagi umat Islam. Pasalnya, di bulan ini kaum muslimin dari berbagai belahan dunia melaksanakan rukun Islam yang kelima. Ibadah haji adalah ritual ibadah yang mengajarkan persamaan di antara sesama. Dengannya, Islam tampak sebagai agama yang tidak mengenal status sosial. Kaya, miskin, pejabat, rakyat, kulit hitam ataupun kulit putih semua memakai pakaian yang sama. Bersama-sama melakukan aktivitas yang sama pula yakni manasik haji.


Selain ibadah haji, pada bulan ini umat Islam merayakan hari raya Idul Adha. Lantunan takbir diiringi tabuhan bedug menggema menambah semaraknya hari raya. Suara takbir bersahut-sahutan mengajak kita untuk sejenak melakukan refleksi bahwa tidak ada yang agung, tidak ada yang layak untuk disembah kecuali Allah, Tuhan semesta alam.

Pada hari itu, kaum muslimin selain dianjurkan melakukan shalat sunnah dua rekaat, juga dianjurkan untuk menyembelih binatang kurban bagi yang mampu. Anjuran berkurban ini bermula dari kisah penyembelihan Nabi Ibrahim kepada putra terkasihnya yakni Nabi Ismail.

Peristiwa ini memberikan kesan yang mendalam bagi kita. Betapa tidak. Nabi Ibrahim yang telah menunggu kehadiran buah hati selama bertahun-tahun ternyata diuji Tuhan untuk menyembelih putranya sendiri. Nabi Ibrahim dituntut untuk memilih antara melaksanakan perintah Tuhan atau mempertahankan buah hati dengan konsekuensi tidak mengindahkan perintahNya. Sebuah pilihan yang cukup dilematis. Namun karena didasari ketakwaan yang kuat, perintah Tuhanpun dilaksanakan. Dan pada akhirnya, Nabi Ismail tidak jadi disembelih dengan digantikan seekor domba. Legenda mengharukan ini diabadikan dalam al Quran surat al Shaffat ayat 102-109.

Kisah tersebut merupakan potret puncak kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya. Nabi Ibrahim mencintai Allah melebihi segalanya, termasuk darah dagingnya sendiri. Kecintaan Nabi Ibrahim terhadap putra kesayangannya tidak menghalangi ketaatan kepada Tuhan. Model ketakwaan Nabi Ibrahim ini patut untuk kita teladani.

Dari berbagai media, kita bisa melihat betapa budaya korupsi masih merajalela. Demi menumpuk kekayaan rela menanggalkan ”baju” ketakwaan. Ambisi untuk meraih jabatan telah memaksa untuk rela menjebol ”benteng-benteng” agama. Dewasa ini, tata kehidupan telah banyak yang menyimpang dari nilai-nilai ketuhanan. Dengan semangat Idul Adha, mari kita teladani sosok Nabi Ibrahim. Berusaha memaksimalkan rasa patuh dan taat terhadap ajaran agama.

Di samping itu, ada pelajaran berharga lain yang bisa dipetik dari kisah tersebut. Sebagaimana kita ketahui bahwa perintah menyembelih Nabi Ismail ini pada akhirnya digantikan seekor domba. Pesan tersirat dari adegan ini adalah ajaran Islam yang begitu menghargai betapa pentingnya nyawa manusia.

Hal ini senada dengan apa yang digaungkan Imam Syatibi dalam magnum opusnya al Muwafaqot. Menurut Syatibi, satu diantara nilai universal Islam (maqoshid al syari’ah) adalah agama menjaga hak hidup (hifdzu al nafs). Begitu pula dalam ranah fikih, agama mensyari’atkan qishosh, larangan pembunuhan dll. Hal ini mempertegas bahwa Islam benar-benar melindungi hak hidup manusia. (hlm.220 )   

 Nabi Ismail rela mengorbankan dirinya tak lain hanyalah demi mentaati perintahNya. Berbeda dengan para teroris dan pelaku bom bunuh diri. Apakah pengorbanan yang mereka lakukan benar-benar memenuhi perintah Tuhan demi kejayaan Islam atau justru sebaliknya?.

Para teroris dan pelaku bom bunuh diri jelas tidak sesuai dengan nilai universal Islam. Islam menjaga  hak untuk hidup, sementara mereka—dengan aksi bom bunuh diri— justru mencelakakan  dirinya sendiri. Di samping itu, mereka juga membunuh rakyat sipil tak bersalah, banyak korban tak berdosa berjatuhan. Lebih parah lagi, mereka  bukan membuat Islam berwibawa di mata dunia, melainkan menjadikan Islam sebagai agama yang menakutkan, agama pedang dan sarang kekerasan. Akibat aksi nekat mereka ini justru menjadikan Islam laksana ”raksasa” kanibal yang haus darah manusia.

Imam Ghazali dalam Ihya ’Ulumuddin pernah menjelaskan tentang tata cara melakukan amar ma’ruf nahi munkar.  Menurutnya, tindakan dalam bentuk aksi pengrusakan, penghancuran tempat kemaksiatan adalah wewenang negara atau badan yang mendapatkan legalitas negara. Tindakan yang dilakukan Islam garis keras dalam hal ini jelas tidak prosedural. (vol.2 hlm.311)

Sudah semestinya dalam melakukan amar makruf nahi munkar tidak sampai menimbulkan kemunkaran yang lebih besar. Bukankah tindakan para teroris dan pelaku bom bunuh diri ini justru merugikan terhadap Islam itu sendiri ?. Merusak citra Islam yang semestinya mengajarkan kedamaian dan rahmatan lil ’alamin. Ajaran Islam yang bersifat humanis, memahami pluralitas dan menghargai kemajemukan semakin tak bermakna.
Semoga dengan peristiwa eksekusi mati Amrozi cs, mati pula radikalisme Islam, terkubur pula Islam yang berwajah seram. Pengorbanan Nabi Ismail yang begitu tulus menjalankan perintahNya jelas berbeda dengan pengorbanan para teroris.

Di hari Idul Adha, bagi umat Islam yang mampu dianjurkan untuk menyembelih binatang kurban. Pada dasarnya, penyembelihan binatang kurban ini mengandung dua nilai yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Kesalehan ritual berarti dengan berkurban, kita telah melaksanakan perintah Tuhan yang bersifat transedental. Kurban dikatakan sebagai kesalehan sosial karena selain sebagai ritual keagamaan, kurban juga mempunyai dimensi kemanusiaan.

Bentuk solidaritas kemanusiaan ini termanifestasikan secara jelas dalam pembagian daging kurban. Perintah berkurban bagi yang mampu ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang respek terhadap fakir-miskin dan kaum dhu’afa lainnya. Dengan disyari’atkannya kurban, kaum muslimin dilatih untuk mempertebal rasa kemanusiaan, mengasah kepekaan  terhadap masalah-masalah sosial, mengajarkan sikap saling menyayangi terhadap sesama.

Meski waktu pelaksanaan penyembelihan kurban dibatasi (10-13 Dzulhijjah), namun jangan dipahami bahwa Islam membatasi solidaritas kemanusiaan. Kita harus mampu menangkap makna esensial dari pesan yang disampaikan teks, bukan memahami teks secara literal. Oleh karenanya, semangat untuk terus ’berkurban’ senantiasa kita langgengkan pasca Idul Adha.

Saat ini kerap kita jumpai, banyak kaum muslimin yang hanya berlomba meningkatkan kualitas kesalehan ritual tanpa diimbangi dengan kesalehan sosial. Banyak umat Islam yang hanya rajin shalat, puasa bahkan mampu ibadah haji berkali-kali, namun tidak peduli dengan masyarakat sekitarnya. Sebuah fenomena yang menyedihkan. Mari kita jadikan Idul Adha sebagai momentum untuk meningkatkan dua kesalehan sekaligus yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Selamat berhari raya !

Sumber: Pesantren Virtual.com
Ditulis oleh Yusuf Fatawie*  
*  Koordinator Forum Kajian ’Beras’ (Bengkel Turas) Kediri.
Staf Ahli Majalah Misykat Kediri
Alamat:
Kantor Majalah Misykat
Jln. HM Winarto no.05 Campurejo Mojoroto 
Kota Kediri Jatim 64101   

klinik-herbalis.com

Hotline: 081.385.386.583 - (021) 9346.1965 / WEB.RIZAL